Sabtu, 23 Mei 2009

PTK SENI BUDAYA SMAN 115 JAKARTA

IMPLEMENTASI MEDIA PENGAJARAN OBJEK NYATA YANG DILAKSANAKAN DI DALAM RUANGAN DENGAN DI LUAR RUANGAN
TERHADAP PENINGKATAN OLAH KREATIFITAS SISWA
PADA MENGGAMBAR BENTUK

( Penelitian Tindakan Kelas dilaksanakan pada siswa
SMAN 115 – Jakarta
Kelas X ( Sepuluh )





Oleh :
Nugroho , S.Pd.








Dinas Pendidikan Menengah Tinggi Provinsi DKI Jakarta
Suku Dinas Dikmenti Jakarta Utara
SMAN 115 Jakarta Utara
Jl. Rorotan X – Cilincing , Jakarta Utara
Telp. ( 021 ) 44850555 – Email : sma115jakarta@yahoo.com



KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan Kehadirat Allah SWT berkenaan dengan telah selesainya Penelitian Tindakan Kelas ( PTK ) ini.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan Penelitian Tindakan Kelas ( PTK ) ini tidak sedikit dukungan , dorongan , arahan serta bimbingan yang penulis terima dari berbagai pihak.
Oleh sebab itu penulis menghaturkan terima kasih kepada yang terhormat :
1. Ibu Dra. Yati Resmiati , MM ( Kepala SMAN 115 – Jakarta ) atas segala
dorongan , bimbingan serta motivasi dan kepercayaan yang diberikan kepada
penulis.
2. Bapak Drs. Rahmanto , M.Pd. ( Guru SMA Negeri 115 –Jakarta ) atas segala
bantuan motivasi serta bimbingannya yang diberikan kepada penulis.
3. Rekan – rekan guru berikut staf dan karyawan SMAN 115 – Jakarta yang telah
banyak memberikan semangat dan masukkan kepada penulis
4. Siswa – siswi SMAN 115 – Jakarta kelas X ( Sepuluh ) 4 Tahun
Ajaran 2008 – 2009 , atas segala bantuan yang telah diberikan kepada penulis.
5. Kakak , istri serta anak tercinta , atas segala do’a serta dukungan semangat yang
dijalin dan tak pernah putus bagi penulis
6. Dan kepada semua pihak yang telah membantu serta memberikan dukungannya
kepada penulis.

Penulis hanya dapat mendo’akan agar apa yang telah diberikan kepada penulis akan
mendapatkan pahala dari Allah SWT , amien, Harapan penulis semoga hasil Penetian
Tindakan Kelas ( PTK ) ini dapat bermanfaat bagi para guru , utamanya guru mata
pelajaran seni budaya khususnya seni rupa. Dan lebih luas lagi bagi dunia pendidikan.



Penulis




BAB I
PENDAHULUAN

1. LATAR BELAKANG MASALAH

Dalam dunia pendidikan dikenal adanya beberapa media pengajaran. Media pengajaran yang dimaksud mempunyai tujuan akhir yakni guna mencapai peningkatan dalam proses belajar mengajar.
Dunia pendidikan menempatkan para pendidik ( guru ) di dalam pemilihan media pengajaran. Dan adanya pemilihan media pengajaran diharapkan akan mencapai hasil yang maksimal dari kegiatan belajar mengajar.
Ada beberapa media pengajaran yang dapat diimplementasikan pada proses pembelajaran. Termasuk media pengajaran objek nyata. Berkaitan dengan media pengajaran objek nyata , Burhan Nurgiyantoro ( 1988 ) berpendapat bahwa media ini berupa objek – objek nyata dalam arti dapat diindera dengan seluruh panca indera. Media ini dapat berupa benda yang senyatanya, tiruan, atau spesimen.
Mata pelajaran Seni Budaya , khususnya seni rupa menuntut adanya kegiatan pembelajaran yang bersifat praktek dengan penilaian secara psikomotor.
Sedangkan pelaksanaan media pengajaran ini dapat dilakukan di dalam ruangan ( in door ) maupun di luar ruangan ( out door ).
Dari kedua ruangan ini didapatkan perbedaan hasil akhir olah kreatifitas yang di tentukan oleh skor penilaian.
Namun pada kenyataannya penilaian dengan media pengajaran objek nyata sangat jarang dilakukan oleh guru mata pelajaran seni budaya , khususnya seni rupa. Dengan dalih akan menambah beban tugas dan membuang waktu.
Guna mencapai hasil olah kreatifitas yang maksimal , maka guru dituntut agar lebih tepat dalam menentukan media pengajaran.
Namun hal yang tak kalah penting juga adalah dikuasai atau tidaknya materi pelajaran tersebut. Dengan kata lain sebagai guru , ternyata ada tuntutan baginya untuk berolah kreatifitas secara langsung dihadapan siswa.
Secara umum banyak siswa mengalami kesulitan untuk berolah kreatifitas pada menggambar bentuk.
Kesulitan umum yang terjadi antara lain :
- bentuk objek yang digambar tidak tepat seperti objek gambar sebenarnya.
- proporsi objek yang digambar tidak tepat , terkadang kesan yang ditimbulkan terlalu pendek atau terlalu tinggi , terlalu kurus atau terlalu gemuk.
- karakter objek yang digambar sulit membedakan bahan dasar objek gambar sebenarnya. Karakter objek yang berbahan dasar plastik , kadang terkesan seperti berbahan dasar tanah liat.

Dengan kata lain permasalahan yang ada saat olah kreatifitas menggambar bentuk adalah :
- pendekatan objek gambar melalui pengamatan masih kurang.
- dalam menentukan proporsi , masih jauh dari yang diharapkan.
- penentuan karakter objek gambar masih belum dapat mewakili bentuk sesungguhnya.
Menyikapi gejala tersebut diatas , maka penulis melakukan penelitian dengan judul ” Implementasi media pengajaran objek nyata yang dilaksanakan di dalam ruangan dengan di luar ruangan terhadap peningkatan olah kreatifitas siswa pada menggambar bentuk “
Daya pengamatan objek gambar merupakan unsur terpenting dalam proses olah kreatifitas menggambar bentuk. Namun hal ini sering sekali diabaikan dalam proses pembelajaran , utamanya bagi menggambar bentuk.
Analisis masalah yang ditentukan pada penelitian ini bersumber dari permasalahan yang ada. Karenanya pada penelitian ini , penulis mengacu pada implementasi media pengajaran. Harapan yang ingin dicapai adalah peningkatan skor ( nilai ) siswa dalam menggambar bentuk yang dilaksanakan di dalam ruangan dengan di luar ruangan.
Dengan demikian analisis masalah yang ditetapkan oleh penulis adalah :
- hasil akhir olah kreatifitas siswa yang ditetapkan dengan penskoran pada pelaksanaan media pengajaran objek nyata di dalam ruangan ( in door ) terhadap materi menggambar bentuk.
- hasil akhir olah kreatifitas siswa yang ditetapkan dengan penskoran pada pelaksanaan media pengajaran objek nyata di luar ruangan ( out door ) terhadap materi menggambar bentuk.
- kendala yang timbul saat pelaksanaan keduanya.

2. IDENTIFIKASI MASALAH
Kesulitan umum seperti tersebut diatas , oleh penulis dijadikan identifikasi masalah , dengan bersandar pada pelaksanaan di dalam ruangan maupun diluar ruangan. Yang menjadi identifikasi masalah pada penelitian ini adalah :
a. Bagaimanakah hasil akhir olah kreatifitas siswa pada menggambar bentuk yang dilaksanakan di dalam ruangan dengan media pengajaran objek nyata ?
b. Bagaimanakah hasil akhir olah kreatifitas siswa pada menggambar bentuk yang dilaksanakan di luar ruangan dengan media pengajaran objek nyata ?
c. Adakah peningkatan hasil akhir olah kreatifitas siswa pada menggambar bentuk yang dilaksanakan di dalam ruangan dengan di luar ruangan ?

3. PERUMUSAN MASALAH
Adanya Latar Belakang Masalah , Identifikasi Masalah mendasari Perumusan Masalah. Perumusan Masalah merupakan batasan mengenai ruang lingkup masalah yang akan diteliti.
Pada penelitian ini , rumusan masalah yang dajukan penulis adalah sebagai berikut :
a. Apakah ada peningkatan olah kreatifitas siswa pada menggambar bentuk dengan media pengajaran objek nyata yang dilaksanakan di luar ruangan ( out door ) ?
b. Sejauh mana peningkatan itu ?

4. KEGUNAAN PENELITIAN
Dari hasil yang diperoleh maka akan dilaksanakan penskoran guna menetapkan hasil akhir dari penelitian ini.
Secara awal dapat dirumuskan manfaat penelitian ini adalah :
a. Guna mendapatkan perhitungan skor yang pasti dari pelaksanaan olah kreatifitas siswa pada menggambar bentuk yang dilaksanakan
di dalam ruangan ( in door ) dengan di luar ruangan ( out door ).
b. Dari perhitungan skor tersebut akan dapat ditentukan ada atau tidaknya peningkatan kreatifitas siswa.
c. Guna mengetahui faktor apa saja yang mungkin muncul pada proses olah kreatifitas siswa pada menggambar bentuk yang dilaksanakan di dalam ruangan ( in door ) dengan di luar ruangan
( out door ).
d. Sebagai acuan guna menetapkan kendala yang ada serta bagaimana mengatasi kendala tersebut.
e. Bagi siswa , akan lebih terbiasa bersosialisasi dengan alam sekitar.
f. Memperkecil tingkat kejenuhan siswa dalam berolah kreatifitas , utamanya di bidang seni rupa.



BAB II
KAJIAN PUSTAKA

1. Pengertian Media Pengajaran
Salah satu kunci keberhasilan proses belajar mengajar adalah ketepatan dalam memilih media pengajaran.
Karena dengan pemilihan media pengajaran yang tepat akan memperoleh hasil yang maksimal.
Menurut Burhan Nurgiyantoro ( 1988 ) penggunaan media pengajaran terutama dimaksudkan untuk meningkatkan penyerapan arus informasi yang disampaikan ( oleh guru ) di kalangan si belajar. Dengan demikian , dengan pemanfaatan media itu diharapkan dapat lebih menunjang tercapainya tujuan yang diharapkan. Penggunaan media , di lain pihak, juga dapat meningkatkan motivasi siswa untuk belajar lebih baik.
Jadi jelaslah bahwa fungsi media pengajaran sebagai upaya peningkatan daya serap arus informasi bagi siswa selaku peserta didik serta guna meningkatkan motivasi agar belajar lebih baik.
Pada dasarnya ada beberapa ragam media pendidikan yang dapat dipilih oleh guru guna mencapai keberhasilan proses belajar mengajar.
Penulis mengambil ragam pendidikan objek nyata. Yang menurut Burhan Nurgiyantoro ( 1988 ) media ini berupa objek – objek nyata dalam arti dapat diindera. Media ini dapat berupa media yang senyatanya , tiruan , atau spesimen.
Hasil akhir olah kreatifitas siswa merupakan penilaian psikomotor. Karena segala pencapaiannya sangat ditentukan oleh ketrampilan siswa itu sendiri.
Menurut Singer ( 1972 ) bahwa mata pelajaran yang berkaitan dengan psikomotor adalah mata pelajaran yang lebih berorientasi pada gerakan dan menekankan pada reaksi – reaksi fisik dan ketrampilan tangan. Ketrampilan itu sendiri menunjukkan tingkat keahlian seseorang dalam suatu tugas atau sekumpulan tugas tertentu.
Yang harus diperhatikan juga adalah pencapaian hasil akhir olah kreatifitas siswa dalam menggambar bentuk tidak dapat dilepaskan dari 3 ( tiga ) komponen penting yakni : pelaksanaan metode pengajaran yang tepat , penyediaan media pengajaran yang bersifat menunjang serta alat belajar yang memadai bagi siswa.
Ketiga komponen itu mutlak harus dilaksanakan dan disediakan , mengingat kurikulum yang digunakan harus dikembangkan.
Selain itu dengan dilaksanakan dan disediakannya ketiga komponen tersebut dapat dijadikan kiat guna memperkecil kegagalan yang sering dihadapi dalam proses belajar mengajar.
Tugas guru selaku pendidik di sekolah bagi mata pelajaran seni budaya tidak boleh menghambat apalagi menghalangi ekspresi siswa.
Menurut Waspada ( 1991 ) guru seni sebagai anggota dan sebagai orang yang telah memilki banyak pengalaman tidak boleh menekankan / memaksa idenya , semua kegiatan hendaknya dipergunakan sebagai alat untuk menstimulasi pertumbuhan melalui pengalaman – pengalaman menyusun , memilih , menilai dan lain – lain.
Lebih lanjut menurut MY Ning Yuliastuti ( 1992 ) tujuan pendidikan seni rupa adalah : a. Mengembangkan sensitivitas dan kreatifitas.
b. memberikan kesempatan kepada anak untuk berekspresi
c. membentuk kepribadian anak supaya harmonis , sehingga dapat berpartisipasi penuh dalam masyarakat lingkungannya.

2. Menggambar Bentuk
Merupakan salah satu materi yang harus diajarkan kepada siswa.
Menurut Soedharsono ( 1985 ) batasan dalam menggambar benda adalah :
- Menggambar bentuk merupakan bagisan dari mata pelajaran pendidikan seni rupa yang termasuk jenis mata pelajaran praktek.
- Yang dimaksud dengan menggambar bentuk adalah upaya berkarya melalui menggambar dengan menggunakan objek atau model benda , secara pengamatan langsung dalam pendekatan realistis.
- Objek atau model benda adalah benda – benda yang tidak bernyawa ( still life ).
Lebih rinci , Veri Apriyatno ( 2004 ) menjelaskan bahwa metode belajar menggambar dengan cara melihat objek bendanya secara langsung lebih efektif jika dibandingkan dengan hanya mengandalkan memori dan imajinasi. Hal ini karena kita secara langsung merasakan keberadaan benda – benda tersebut dan bisa menggambarkan karakter dan proporsinya secara benar.

3. Penilaian Hasil Belajar Psikomotor
Hasil akhir dari unjuk karya adalah penilaian. Karena unjuk karya tergolong kegiatan praktek maka penilaiannya beraspek psikomotor , utamanya pada saat proses kegiatan unjuk karya serta hasil akhirnya.

4. Perangkat Penilaian Psikomotor
Dua hal penting yang perlu dilakukan oleh guru . apabila melakukan penilaian ataupun pengukuran tingkat hasil belajar siswa yang beraspek psikomotor. Yang pertama perlu adanya soal , dapat berupa lembar kerja , lembar tugas , perintah kerja , lembar eksperimen. Sedangkan untuk mengamati unjuk karya siswa selaku peserta didik dapat menggunakan lembar observasi ataupun portofolio.
Kesemuanya ini berfungsi guna mengetahui peningkatan kreatifitas siswa secara berkesinambungan.
5. Penyusunan Rancangan Penilaian
Pada penelitian ini , penilaian hasil unjuk karya siswa disusun rancangannya sebagai berikut :
a. Penilaian dilakukan sampai dengan 2 ( dua ) kali siklus.
Setiap siklus aspek yang dinilai ( diberikan Skor ) meliputi :
a.1. Proporsi objek
a.2. Karakteristik objek yang diwakili oleh arsiran
a.3. Ketepatan objek
b. Pada setiap siklus akan dipaparkan kendala yang ada.

6. Kisi – Kisi Penilaian / Penskoran
Merupakan acuan bagi penulis guna mendapatkan hasil akhir bagi unjuk karya siswa selaku peserta didik. Para siswa diberikan tugas mengamati objek nyata , dari hasil pengamatan tersebut dilanjutkan pada olah kreatifitas berupa menggambar bentuk berdasarkan objek nyata dan hasil pengamatan. Selama proses penugasan , penulis mengamati langsung kegiatan unjuk karya siswa dengan tujuan untuk mengetahui kendala yang dihadapi oleh para siswa.
Hal ini dilakukan di dalam ruangan ( in door ) dengan di luar ruangan ( out door ) secara berkesinambungan.
Setelah proses olah kreatifitas siswa selesai , maka penulis mengadakan penilaian / penskoran dari masing – masing siswa pada setiap siklusnya.
Dengan menggunakan pedoman penilaian / penskoran sebagai berikut :
Nilai 10 – 29 kategori kurang baik sekali
Nilai 30 – 49 kategori kurang baik
Nilai 50 – 69 kategori sedang
Nilai 70 – 89 kategori baik
Nilai 90 – 100 kategori baik sekali

2 komentar:

  1. Hai. pa kabar sobat, lama tak jumpa.Buat PTK Yang banyak yaaa. Gambar bentuk kan materi SMP, Tapi bolehlah tuk SMA juga.Bagaimana dengan yang kontenporer ? buat PTK-nya yaa.
    From : Heri.suroto@yahooo.co.id

    BalasHapus
  2. halo pak ,boleh juga pak ptknya tapi gimana yang seni kontemporer ?

    BalasHapus